THE JOURNAL

15 Jam Berpuasa di Negeri Tirai Bambu: Tanpa Takjil Ala Indonesia dan Sulitnya Mencari Masjid

June 11, 2019

Words & Photo by : Aditya Wahyu Perdana

Bagaimana rasanya menjalani ibadah puasa di negeri tirai bambu? Perbedaan waktu bukanlah satu-satunya tantangan yang harus dilewati.

Bagi seorang muslim, bulan ramadan atau yang biasa disebut sebagai puasa merupakan hal yang selalu dinantikan, karena begitu banyak momen yang menjadi ajang silaturahim, serta menjadi bulan penuh berkah. Maka bulan itu tidak bisa dilewatkan begitu saja tanpa adanya keluarga dan juga teman-teman terdekat. Namun, bagaimana rasanya bila melewati bulan penuh berkah ini di negera oranglain dan jauh dari orang-orang tersayang? Ya, itulah yang dirasakan oleh saya, tahun ini menjadi kali pertama saya menjalani ibadah puasa jauh dari orangtua dan teman-teman di Indonesia.

Saya merupakan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Negeri Tirai Bambu, tepatnya di kota Wuxi, provinsi Jiangsu. Berpuasa di luar negeri bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, serta bukan hanya sekadar menahan nafsu makan dan haus saja, tetapi begitu banyak tantangan yang berbeda dari biasanya seperti mencari tempat makan yang halal dan murah.

PERBEDAAN WAKTU BERBUKA DAN SAHUR

Dari sekian banyak tantangan yang hadir ketika berpuasa di luar negeri, perbedaan waktu berbuka dan waktu sahur menjadi yang paling menonjol. Berpuasa di China durasinya lebih lama dari di Indonesia, apabila di Indonesia waktu imsak pada pukul 4.30 pagi dan berbuka pukul 17.44, maka di China lumayan jauh perbedaannya.

Masyarakat bergama Islam berbuka puasa bersama tanpa melihat darimana asal datangnya.

Di sini saya hanya bisa menjalankan sahur hingga pukul 3.30 pagi, karena lewat dari itu sudah memasuki waktu imsak. Sedangkan untuk waktu berbuka puasa, di sini adzan berkumandang pada pukul 19.00 waktu setempat. Menjalani ibadah puasa selama kurang lebih 15 jam, tentunya berbeda dari lamanya waktu menjalani ibadah puasa di Indonesia.

 

SULITNYA MENCARI TEMPAT IBADAH

Salah satu yang menjadi kendala lainnya adalah sulitnya menemukan masjid untuk sekadar berbuka puasa atau melaksanakan salat sunah tarawih karena jarak yang begitu jauh dari dormitory tempat saya tinggal bersama mahasiswa lainnya. Dengan jarak yang jauh dan sulitnya menemukan masjid yang dekat, sering kali kami para mahasiswa muslim di sini melaksanakan salat sunah tarawih di dormitory bersama-sama.

TIDAK ADA TAKJIL SEPERTI DI INDONESIA

Walau sama-sama menjalankan ibadah puasa, namun di China sayangnya tidak ada takjil seperti di Indonesia, meski sudah berbuka di masjid tetap saja saya tidak menemukannya. Di Indonesia, banyak bertebaran penjual takjil, bukan hanya penjual tetapi di masjid pun selalu tersedia, seakan-akan kurang lengkap jika berbuka puasa tanpa takjil. Hal itulah yang terkadang saya rindukan ketika saya sedang berpuasa di sini. Namun, karena saya merupakan chef, maka apabila saya sedang rindu dengan takjil khas Indonesia, sering kali saya membuat masakan tersebut.

Kali pertama berpuasa di China, saya menemukan keluargaa baru di sini yang saling bercengkrama satu sama lain.

Untuk bisa lebih menghemat uang dan jarang memiliki waktu luang, sering kali saya bersama teman-teman muslim lainnya menjalankan salat di dormitory dan memasak bersama di sana.

Bersama teman-teman muslim lainnya asal Indonesia, kami memasak bersama untuk menghemat waktu dan uang di bulan ramadan kali ini.

Apabila kamu memiliki rencana untuk berlibur atau menetap di China dan melewatkan ibadah puasa di sini, untuk bisa menghemat budget dan agar tidak kesusahan ketika berbuka dan sahur, saya sangat menyarankan untuk membeli atau mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak sendiri.

SHARE THIS JOURNAL ON