THE JOURNAL

Berkunjung ke Penjara Legendaris Alcatraz: Selnya Lebih Kecil dari Toilet

April 11, 2019

Words & Photo by : Danang Arradian

Berkunjung ke penjara legendaris, Alcatraz, Amerika Serikat: Selnya lebih kecil dari toilet.

Inilah penjara yang paling banyak di filmkan: Alcatraz. Pernah dikenal sebagai tempat paling menyeramkan, sekarang menjadi tempat wisata yang seru dan menyenangkan. Karena memang ada begitu banyak cerita tentang Alcatraz, yang juga menginspirasi film The Rock (1996) dengan bintang Nicolas Cage dan Sean Connery itu.

Tapi mengapa Alcatraz begitu melegenda? Pertama, dari letaknya di sebuah pulau terpisah berjarak 2 km dari pelabuhan San Francisco. Turis yang ingin berkunjung harus membeli tiket $41 di Pier 33. Kemudian naik kapal ferry selama kurang lebih 40 menit.

Tidak memerlukan waktu yang lama untuk pergi ke Alcatraz

Kedua, karena sistem keamanannya. Di masanya, Alcatraz adalah penjara dengan sistem keamanan tertinggi di dunia. Penjaranya memiliki banyak rintangan. Kamera pengawas ada di setiap sudut. Pun, berenang dari pulau ke San Francisco nyaris tidak mungkin karena suhu air yang sangat dingin (16 derajat) dan tekanan arus yang kuat.

Berujung pada faktor ketiga, yakni kisah-kisahnya. Alcatraz dikenal dengan kisah berhasil kaburnya tiga orang tawanan dari penjara teraman di dunia itu. Belum lagi bagaimana tawanan terkenal dan dikenal paling kejam yang “menginap” disini seperti Al Capone, George “Machine Gun” Kelly, hingga Robert Stroud “The Birdman of Alcatraz”.

Kisah-kisah itu juga “dijual” ke turis lewat memorabilia berupa buku, komik, gelas, hingga pakaian yang bisa dibeli di merchandise store. Penjualan tiket dan merchandise salah satu yang membiayai operasional Alcatraz sebagai tempat wisata. Sebab, biaya operasional Alcatraz sebagai penjara mahal sekali. Setelah dialih fungsikan dari penjara militer menjadi penjara federal pada 1934, Alcatraz ditutup di 1963. Lalu resmi jadi area rekreasi nasional di 1972 (beroperasi selama 39 tahun).

Melihat kondisi ruangan penjara yang disebut-sebut sebagai penjara teraman di dunia.

Menginjakkan kaki di Alcatraz pada Februari 2019 kemarin ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Tidak seangker dan semisterius yang diberitakan. Angin bertiup cukup dingin. Kalau berjalan mengelilingi pulau, mungkin hanya perlu waktu 30-40 menit saja. Tapi berbatu dan sedikit berbukit. Ada mercusuar, barak-barak, beberapa bangunan yang sudah tidak terpakai. Salah satunya water tower legendaris bertuliskan "Peace and Freedom Welcome to the home of the Free Indian Land".

Begitu masuk penjara dan memulai tur, kita diberi headset dengan audioguide yang akan mengarahkan kemana harus berjalan dan apa saja yang harus dilihat. Jadi, tidak ada tour guide. Tidak ada yang berbicara di dalam penjara. Semua asik mendengarkan cerita yang dikemas sangat menarik.

Para pengunjung Alcatraz menggunakan headphone sebagai guide mengelilingi penjara legendaris tersebut.

Cerita di audioguide itu sangat detil dan dramatis. Seperti mengikuti sebuah film. Misalnya ada 14 upaya kabur yang dilakukan oleh 36 tawanan. Kisah-kisah mantan napi dan sipir saat bertugas disana. Lalu, kondisi di penjara, apa saja yang dilakukan tahanan selama di Alcatraz, pembagian blok sel untuk siapa saja, fasilitas tahanan seperti lapangan dan perpustakaan, serta kegiatan lainnya.

Ruangan penjara yang begitu sempit.

Yang memprihatinkan menurut saya adalah ukuran selnya yang sangat sempit. Lebih sempit dari ukuran kamar mandi di Indonesia. Di blok B dan C, misalnya, ukuran sel hanya 1.5 meter x 3 meter. Di setiap sel itu toilet menjadi satu dengan tempat tidur. Bukan hanya selnya yang sempit. Ternyata Alcatraz lebih kecil dari yang saya bayangkan. Penjara ini dihuni rata-rata 260 napi (terbanyak 320 orang). Jadi tidak selalu terisi penuh.

Keindahan Alcatraz dibalik sebutan penjara paling menyeramkan.

Sisanya, Alcatraz adalah penjara dengan pemandangan yang indah. Tidak ada hukuman mati dilakukan di tempat ini. Tawuran antar napi memang terjadi. Tapi hanya 8 orang yang meninggal. Lima orang bunuh diri. Jelas, ini salah satu tempat paling berkesan dari kunjungan saya di San Francisco.

Cerita ini merupakan hasil kolaborasi Saya bersama Samsung, simak perjalanan saya selengkapnya di Amerika dalam video ini

SHARE THIS JOURNAL ON

Shop The Product