THE JOURNAL

Cagar Alam Rawa Danau: Kawasan Ekosistem Rawa Air Tawar Satu-satunya di Pulau Jawa

September 3, 2019

Words & Photo by : Sarah Aulia Rahmah

Menjadi satu-satunya di Pulau Jawa, Rawa Danau bukan hanya sekadar tempat tinggal ekosistem saja, namun juga bisa menjadi kawasan wisata edukasi.

Cagar Alam Rawa Danau (CARD) merupakan salah satu kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai cagar alam (CA) di masa pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1921, terletak di Kabupaten Serang yang melingkupi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Padarincang, Kecamatan Pabuaran, dan Kecamatan Mancak dan memiliki luas 3.542,70 Ha.

Kawasan CA Rawa Danau merupakan kawasan endemik dan merupakan situs konservasi rawa air tawar pegunungan satu-satunya di Pulau Jawa sehingga sering dikategorikan sebagai jenis rawa langka di dunia. Tempat ini biasa juga disebut “Rawa Dano” oleh warga sekitar Serang dan Cilegon. Wilayahnya yang masih sangat asri membuat banyak orang selalu penasaran untuk berkunjung ke tempat ini.

Untuk dapat menuju ke Kawasan CA Rawa Danau, dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor dua ataupun empat. Dari Kota Serang perlu ditempuh sekitar 25-30 km. Namun sayangnya, masih belum terdapat akses transportasi umum untuk menuju kawasan sehingga diperlukan kendaraan pribadi.

Sesampainya di sana, tempat yang akan ditemui pertama kali adalah pos terpadu CA Rawa Danau yang merupakan kantor petugas-petugas CA Rawa Danau mulai dari staff hingga petugas pengamanan hutan.

Pos Masuk Cagar Alam Rawa Danau

Tingginya keanekaragaman hayati di CA Rawa Danau membuat kawasan tersebut banyak dikunjungi untuk dilakukan penelitian. Kawasannya yang dikategorikan sebagai cagar alam memang khusus ditujukan untuk keperluan pendidikan atau penelitian.

Namun bagi pengunjung yang hanya ingin melihat keindahan CA Rawa Danau tidak perlu khawatir, tepat di samping pos CA Rawa Danau disediakan tempat untuk berduduk-duduk dan bersantai bersama teman atau keluarga sambil menikmati pemandangan CA Rawa Danau dari atas, pengunjung biasanya hanya perlu membayar tarif parkir saja.

Terdapat juga warung-warung di pinggir jalan yang meyediakan minuman, gorengan, mie ayam, bakso, dan lain-lain. Kawasan ini akan ramai biasanya pada akhir pekan di sore hari.

Tidak hanya wisatawan dari luar Banten, warga Banten pun ikut meramaikannya dan biasanya dipenuhi oleh anak-anak muda sekolah yang membawa motor bersama teman-temannya.

Warung minum pinggir jalan depan pos CA Rawa Danau

Pemandangan yang ditawarkan oleh Cagar Alam dilihat dari atas.

Desa Cikedung memiliki kondisi wilayah dengan akses jalan naik turun berbatu dan didominansi dengan area persawahan.

Jika ingin masuk ke dalam kawasan, diharuskan untuk membuat surat izin masuk kawasan konservasi (SIMAKSI)terlebih dahulu dikantor Seksi Konservasi Wilayah I BBKSDA Jabar yang terletak di daerah Ciracas, Kota Serang agar didampingi oleh petugas cagar alam saat melakukan penjelajahan dan pengamatan.

Kawasannya yang didominansi oleh perairan, maka tidak lengkap rasanya apabila perjalanan tidak sampai ke daerah rawa-rawa, karena tempat tersebutlah yang menjadi daya tarik utama kawasan ini, kita bisa menelurusi kawasan sambil menikmati pemandangan menggunakan sampan. Untuk menuju kawasan bagian dalam terutama daerah rawa, terdapat dua jalur yang umum untuk dilewati, yaitu melalui Desa Sukamaju dan Desa Cikedung.

Desa Sukamaju memiliki kondisi wilayah dataran rendah berupa hutan dengan areal yang terbuka dan sungai.

Sepanjang perjalanan, kita akan dikelilingi dengan kawasan lereng pegunungan, hutan, persawahan, dan sungai. Jalanannya yang berbatu, licin, naik turun menjadi tantangan tersendiri. Pengunjung akan menemukan pohon-pohon yang menjulang tinggi juga menemukan satwa-satwa seperti primata, burung, capung, kupu-kupu, amfibi, dan lain-lain.

Lutung Jawa yang menyapa kami ketika sedang dalam perjalanan menyusuri Cagar Alam.

Katak yang ditemukan di Cagar Alam ini.

Sesampainya di kawasan hutan rawa, kita akan disuguhkan dengan pemandangan perairan rawa yang ditumbuhi dengan ilalang-ilalang yang menjulang tinggi. Untuk menelusurinya area rawa, digunakan sampan yang dimiliki oleh warga setempat. Sampan dikayuh oleh pemiliki sampan menggunakan dayung dan batang bambu.

Sampan inilah yang akan mengantarkan kami untuk berkeliling di Cagar Alam.

Rasa takut dan khawatir muncul dikarenakan ukuran sampan yang kecil dan mudah sekali goyang apabila kita bergerak sehingga diperlukan kehati-hatian dan tetap tenang saat berada di sampan. Namun rasa takut dan khawatir dikalahkan dengan rasa kagum akan keindahan pemandangannya. Rasanya akan menyesal apabila tidak mengabadikan setiap sisinya dengan jepretan kamera. Selama menelusuri, terdengar kicauan burung yang sedang terbang di atas, ikan-ikan kecil yang terlihat di dekat sampan dan apabila menjelang sore akan ditemukan segerombolan primata yang sedang bergelantungan di atas pohon dan bunyi-bunyi serangga.

Cagar Alam ini masih sangat asri dengan pohon yang rindang.

Diperlukan tenaga yang lebih untuk mendayung dikarenakan tumbuhan eceng gondok yang sedang melimpah hingga ke bagian tengah rawa sehingga menghambat jalannya sampan.

Sampah yang menjadi penghalang dalam perjalanan menelusuri Cagar Alam.

Keindahan CA Rawa Danau dengan ekosistemnya yang unik patut dibanggakan dan dilestarikan. Melimpahnya jenis flora dan faunanya juga memperkaya keanekaragaman hayati di Indonesia.

Salah satu ekosistem yang sulit ditemukan di sekitar lingkungan kita, namun dapat ditemukan di Rawa Danau.

Menjadi suatu kebanggaan untuk dapat mengunjungi kawasan ini. Kawasan CA Rawa Danau dapat dijadikan salah satu destinasi wisata ataupun penelitian bagi yang menginginkan untuk menikmati kawasan dengan tipe ekosistem yang hanya terdapat di Pulau Jawa ini.

SHARE THIS JOURNAL ON