Potret Lain Kehidupan di Wisata Hutan Mangrove

dian azizah
July 17, 2019

Follow

Nyatanya, hutan mangrove tidak hanya memberikan dampak untuk mencegah abrasi pantai saja, namun lebih dari itu terdapat kehidupan masyarakat sekitar.

Seperti yang sudah diketahui bahwa fungsi adanya hutan mangrove untuk bisa sekuat mungkin menahan abrasi pantai agar tidak terjadi. Beberapa tahun terakhir, fungsi adanya hutan mangrove itu bertambah menjadi lokasi pariwisata bahari yang disukai oleh berbagai kalangan. Ajaibnya wisata bahari tersebut bisa menyedot banyak wisatawan dan juga menjadi mata pencaharian baru, bahkan di beberapa lokasi kehidupan masyarakat sekitar sangat bergantung kepada keadaan hutan mangrove tersebut.

Salah satunya hutan mangrove di Kabupaten Tangerang, yang tepatnya berlokasi di Teluk Naga. Saya mengabadikan beberapa momen kehidupan lain di tempat tersebut. Mari lihat sisi lain kehidupan di wisata hutan mangrove yang jarang terlihat:

Jalan masuk menuju hutan mangrove yang lumayan jauh jaraknya dengan lokasi parkir kendaraan.

Pemandangan di depan tempat parkir kendaraan.

Saya menempuh perjalanan dengan waktu selama kurang lebih 1 jam 30 menit untuk bisa mencapai lokasi dari titik keberangkatan di mall Tangcity, Kota Tangerang dengan menggunakan kendaraan pribadi. Perjalanan tersebut pun tidak semulus jalan lainnya, saya harus melewati beberapa gang kecil yang sedikit menyulitkan karena saya menggunakan mobil. Sesampainya di lokasi, saya bisa memarkir kendaraan dengan jarak yang cukup jauh dari pintu masuk wisata.

Dalam perjalanan menuju pintu masuk, saya melihat beberapa petambak garam yang sedang bekerja.

Tidak jauh dari hutan mangrove tersebut, terdapat beberapa petambak udang yang memiliki sebidang tambak.

Dalam perjalanan menuju jembatan utama untuk ke hutan mangrove, saya melihat nelayan yang lalu lalang dengan membawa jaring ikan, pancingan, dan juga ada yang sedang membenarkan jaring ikan. Bukan hanya itu saja, saya juga menemukan beberapa anak rajungan yang sudah tidak bernyawa di tanah.

Rajungan merupakan jenis kepiting yang hidup dan berenang sepenuhnya di lautan.

Nelayan yang sedang membenarkan jaring pancingnya di sekitar pintu masuk.

Perjalanan awal saya menelusuri hutan mangrove Tangerang dimulai dengan pemandangan dan suasana yang tenang karena saya datang pada siang hari, maka pengunjung tidak terlalu ramai. Di jembatan pertama ini, hanya ada saya dan dua teman saya saja saat itu. Dengan mengeluarkan kocek sebesar 10ribu saja, saya sudah bisa berkeliling tempat ini sepuasnya tanpa banyak peraturan seperti diperbolehkannya membawa segala jenis kamera.

Jembatan pertama di hutan mangrove Tangerang.

Setelah memasuki jembatan berikutnya, ada sepasang kekasih yang sedang melihat ikan-ikan kecil di air.

Semakin dalam saya menelusuri hutan mangrove tersebut, semakin tenang suasananya dan hanya terdapat suara kicauan burung yang tidak bisa saya temukan dimana posisi burung tersebut berada. Setelah dipukau dengan suara kicauan itu, saya berjalan sedikit dan bertemu dengan seorang nelayan yang sedang membentangkan jaringnya.

Hutan mangrove ini bukan hanya sekadar menjadi pariwisata saja, namun juga menjadi mata pencaharian bagi sebagian masyarakat pesisir.

Ternyata beliau tidak datang sendirian, tidak lama kemudian terdapat salah satu anak yang mendatanginya dan mengumpulkan ikan yang sudah mereka dapat.

Ia datang bersama bapak nelayan tersebut dan mengumpulkan ikan hasil tangkapan. Ia juga mencari ikan dengan pancingan.

Kedua bapak dan anak itu, berdiri di pinggir lahan yang sedang ditanami pohon mangrove yang belum tumbuh tinggi. Sayangnya, terdapat beberapa sampah plastik berserakan di atas tanah itu.

Luas lahan pohon mangrove belum lama ditanam.

Perairan di hutan mangrove ini terlihat tenang dan tidak terlihat sampah.

Bila di beberapa tempat wisata hutan mangrove lain terdapat perahu yang bisa disewa oleh pengunjung untuk berkeliling melihat seluruh lokasi, berbeda dengan di sini, tidak ada perahu yang bisa disewa saat itu, serta perahu yang lalu lalang hanyalah perahu milik nelayan yang membawa hasil tangkapannya.

Hutan mangrove di Tangerang bukanlah hanya sekadar wisata, tetapi juga tempat untuk mencari nafkah bagi masyarakat sekitar, namun fasilitas yang disediakan belumlah memadai. Salah satunya adalah lahan parkir kendaraan yang belum memiliki jalur khusus.