THE JOURNAL

Potret MRT Dalam Balutan Kamera Analog

April 26, 2019

Words by : Dian Azizah | Photos by : Reira Tista

Ratangga, nama yang diberikan untuk kereta cepat MRT Jakarta hingga kini masih menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana bila melihat potretnya dalam balutan kamera analog?

Kereta cepat kebanggaan masyarakat Indonesia yang baru saja tiba di Ibu Kota Jakarta ini masih terus menyedot perhatian hingga kini. Walau sudah hampir satu bulan sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, pengguna MRT masih terus berdatangan hingga kini. Mari lihat potret Ratangga, si kereta MRT dalam balutan kamera analog:

Suasana di Stasiun MRT Fatmawati pada siang hari. 

Untuk mencoba moda transportasi MRT Jakarta, terdapat tarif yang dapat kamu keluarkan sebesar Rp 6000 hingga Rp 9000 dalam sekali melakukan perjalanan. Namun, untuk sistem pembayaran terdapat menjadi dua cara, yaitu dengan menggunakan kartu single trip yang bisa kamu dapatkan dengan membayar lebih besar sebanyak Rp 15000 yang merupakan biaya kartu dan asuransi perjalanan. Dalam sistem pembayaran menggunakan kartu single trip, kamu harus mengembalikan kartu tersebut dan uang asuransi Rp 15000 yang milik kamu akan dikembalikan.

Selanjutnya pihak MRT sedang membuat kartu multitrip yang bisa digunakan massal untuk kedepannya.

Untuk membeli tiket MRT, kamu bisa menggunakan kartu single trip atau uang cash tanpa kartu

Perjalanan menggunakan moda transportasi baru ini, sungguh tidaklah terasa, karena jarak dari satu stasiun ke stasiun lainnya terasa sangat dekat. Waktu yang ditempuh dari stasiun Senayan menuju stasiun Fatmawati kurang lebih 20 menit saja. Sedangkan waktu tempuh yang menggunakan kendaraan pribadi kurang lebih mencapai satu jam.

Sayangnya, beberapa stasiun MRT masih dalam tahap pembangunan yang belum rampung 100%

Jalan keluar stasiun MRT Fatmawati

Walau sudah diresmikan dan bisa digunakan, beberapa stasiun MRT masih dalam pembangunan tahap akhir, seperti di stasiun Fatmawati, ketika keluar dari stasiun dan menuju jalan raya, terdapat jalur yang akan menuntun kamu ke zebracross untuk menyebrang jalan.

MRT memiliki jalur sendiri bagi penumpang yang akan turun dan naik kereta.

Ratangga memiliki jalur tersendiri untuk para penumpang mengantre kereta yang akan berhenti, dengan memiliki jalur tersebut, keramaian di stasiun terasa lebih rapih dan enak dilihat.

Stasiun MRT Fatmawati memiliki 3 lantai yang cukup luas dan tidak terdapat di ruang bawah tanah.

Beberapa stasiun MRT sudah memiliki merchant atau kedai yang bisa kamu kunjungi untuk bersantai setelah seharian beraktivitas, seperti di stasiun Senayan dan Bundaran HI, terdapat cafe Lawson dan Starbucks. Selain itu, tidak semua stasiun berada di bawah tanah, stasiun Fatmawati menjadi salah satunya, maka di stasiun ini memiliki 3 lantai. Sedangkan untuk stasiun yang berada di bawah tanah seperti Senayan, kamu akan kehilangan sinyal ketika memasuki wilayah tersebut.

Menggunakan Ratangga dalam kegiatan bekerja dan berwisata di Jakarta sangat direkomendasikan bagi kamu yang menginginkan transportasi massal dengan waktu tempuh yang singkat.

SHARE THIS JOURNAL ON