THE JOURNAL

Sehari Mencicipi Berbagai Hidangan Khas Benua Afrika

July 11, 2019

Words & Photo by : Dian Azizah

Sebuah kesempatan yang menyenangkan rasanya bisa mencicipi makanan khas dari berbagai negara-negara di Benua Afrika hanya dalam satu hari saja.

Pada tanggal 25 Mei lalu saya diundang oleh kedutaan Republik Zimbabwe untuk merayakan Africa Day tahun ini dengan dresscode kebanggaan Indonesia yaitu Batik. Acara tersebut merupakan event tahunan yang dilaksanakan oleh negara-negara Benua Afrika yang memiliki kantor perwakilan di Indonesia. Dibentuk sejak tahun 1963,  Africa Day dikenal dunia sebagai peringatan pembentukan organisasi kesatuan negara-negara Benua Afrika (OAU) dengan tujuan untuk terus mengingat bagaimana perjuangan untuk tetap hidup dan menghargai kebebasan yang sudah dimiliki hingga saat ini.

Pembukaan acara Africa Day 2019 oleh perwakilan berbagai Kedutaan Besar di Indonesia.

Bagi enam negara seperti Ghana, Mali, Namibia, Zambia, Lesotho, dan Zimbabwe, Africa Day merupakan hari libur dari segala aktivitas. Di Indonesia sendiri, peringatannya dirayakan dengan mengundang delegasi dari berbagai negara yang menjalin kerja sama dengan Afrika dan menjadikan event tersebut sebagai ajang 'pamer' makanan dan minuman tradisional dari negara mereka. Lalu hidangan apa saja yang disajikan? Saya mencicipi hampir semua hidangan yang disajikan di sana.

Makanan Khas Republik Zimbabwe

Makanan pertama yang saya coba adalah makanan khas Zimbabwe.

Pada ajang acara ini, Zimbabwe menghidangkan 2 makanan khas mereka yaitu Madora dan Sadza yang menjadi makanan pokok di negara tersebut. Di setiap stand makanan, saya bisa langsung berinteraksi dengan masyarakat asli dari Benua Afrika yang dibantu oleh Kedutaan Besar Afrika.

Madora, salah satu makanan khas yang menyedot perhatian pada hari itu.

Sadza, Nasi khas Zimbabwe.

Dari dua makanan yang disediakan, yang paling menarik perhatian saya adalah Madora. Apa itu Madora? Madora merupakan makanan khas Zimbabwe yang berasal dari ulat sagu yang dimasak dengan rempah-rempah. Sesungguhnya, ini kali pertama saya mencoba memakan ulat, walau sudah dimasak dengan bumbu, namun tetap saja menurut saya makanan ini terasa hambar.

Saya mencicipi Madora dengan nasi khas Zimbabwe, Sadza berbeda dari nasi yang ada di Indonesia. Sadza memiliki tekstur yang sedikit lebih kasar, dan terasa seperti kelapa parut.

Makanan Khas Ethiopia

Salah satu makanan khas Ethiopia bernama Kai Watt ini sekilas terlihat seperti makanan khas Indonesia yaitu Rendang.

Kai Watt merupakan salah satu makanan khas Ethiopia yang sekilas terlihat mirip sekali dengan salah satu makanan khas Indonesia yang  juga popular yaitu rendang. Biasanya, makanan ini dihidangkan dengan salah satu makanan khas lainnya yaitu Injera yang merupakan roti ala Ethiopia yang memiliki tampilan seperti kulit spons, makanan ini menjadi makanan pokok bagi masyarakatnya. Dibuat dari tepung reff dan biji-bijian tanaman, roti ini memiliki rasa dan aroma yang sangat khas. Rasa dari Kai Watt tidak sama seperti rendang, kuahnya memiliki aroma rempah-rempah yang kuat dan rasa pedas yang berbeda dari "pedas" Indonesia.

Dalam acara ini, Ethiopia menghidangkan banyak makanan, banyak sekali tamu yang tertarik dengan makanan khasnya sehingga bisa habis dalam waktu yang sebentar.

Makanan Khas Sudan

Makanan khas Sudan menjadi makanan yang sangat saya favoritkan di acara ini.

Bagi para pecinta makanan manis seperti saya, makanan khas negara Sudan menjadi sesuatu yang bisa membuat bahagia. Saya sangat senang ketika mencicipinya, rasa di setiap makanannya sungguh bikin ketagihan! Satu makanan yang menjadi favorit saya, yaitu regalnya Sudan.

Sejak pertama datang, saya sudah menanti untuk mencicipi makanan khas Sudan ini.

Makanan yang dikenal sebagai "regal" negara Sudan ini menjadi favorit saya!

Dikenal sebagai regalnya negara Sudan ini memiliki nama asli chocolate biscuit marie, rasanya tidak terlalu manis namun nikmat sekali ketika dimakan. Walau terlihat biasa aja, bahkan tidak terlihat seperti ada yang khas, sesungguhnya camilan ini harus dicoba terlebih bagi kamu yang sangat suka makanan manis seperti saya.

Kue ini terlihat seperti kue bolu pada umumnya, namun rasa manisnya terasa sangat enak sekali.

Memiliki tekstur yang lembut, makanan ini menjadi makanan favorit kedua saya. Rasa manis yang disuguhkan juga terasa sangat pas untuk selera makan saya sampai saya nambah sebanyak tiga kali karena rasanya yang nikmat dan teksturnya yang lembut.

Makanan selanjutnya adalah Coconut Koeksisters.

Makanan khas Sudan terakhir yang saya coba saat itu adalah coconut koeksisters, makanan tersebut memiliki tekstur tebal dan sedikit keras. Coconut koeksisters ini memiliki perbedaan dari makanan sebelumnya yaitu tidak memiliki rasa manis yang pekat, tetapi memiliki rasa gurih dan pada saat saya memakannya, saya teringat makanan Indonesia bernama misro. Tekstur makanan ini mirip sekali dengan camilan Sunda yang akrab dipanggil misro itu.

Makanan Khas Nigeria

Makanan khas Nigeria yang sangat terasa rempah-rempahnya.

Makanan ini menjadi pengganti makanan pokok di Nigeria, teksturnya tidak jauh berbeda dari makanan khas Zimbabwe yaitu Madora. Namun, ia memiliki rasa yang sangat pedas. Di dalamnya terdapat udang yang sudah direbus, makanan ini terbuat dari kacang-kacangan tumbuhan di Nigeria. Ini sangatlah cocok untuk kamu yang menyukai makanan pedas.

Nasi goreng khas Nigeria yang dimakan berasa dengan pisang goreng.

Ternyata, bukan hanya Indonesia saja lho yang memiliki nasi goreng, tetapi Nigeria pun juga memiliki nasi goreng. Apa sih bedanya nasi goreng Nigeria dengan nasi goreng Indonesia? Setelah saya coba nasi goreng Nigeria ini memiliki tekstur yang sedikit lebih kasar dan sedikit keras, namun rasa gurih dan pedasnya bisa menyaingi nasi goreng Indonesia. Uniknya, kamu harus makan nasi goreng ini dengan lauk pisang goreng yang sudah diolah dengan bumbu-bumbu khas Nigeria. Hal tersebut menjadi sesuatu yang baru saya temukan. Rasa gurih, pedas, manis, semua menjadi satu.

SHARE THIS JOURNAL ON