THE JOURNAL

Eksis di Media Sosial Hak Segala Suku: Termasuk Suku Baduy

May 8, 2019

Words by : Dian Azizah | Photos by : Rizky Kurniawan

Walau masih tinggal di pedalaman Banten, Suku Baduy sudah mulai menggunakan teknologi smartphone hingga bisa mengakses sosial media Youtube dan Instagram.

Indonesia memiliki banyak budaya yang di dalamnya terkait dengan suku adat yang masih memegang teguh peninggalan nenek moyangnya. Salah satu yang suku adat yang terkenal dan sering menyedot perhatian wisatawan lokal hingga mancanegara adalah Suku Baduy yang berada di ujung Banten.

Suku Baduy merupakan sekumpulan masyarakat adat di pedalaman Banten yang masih memegang teguh budaya nenek moyang mereka. Namun saat ini masyarakatnya terbagi menjadi dua bagian, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Terdapat perbedaan yang mencolok antara kedua sub-suku tersebut seperti dari pakaian, biasanya suku Baduy Luar menggunakan baju adat berwarna hitam dan Baduy Dalam menggunakan baju adat berwarna putih.

Suku Baduy Luar menggunakan pakaian berwarna hitam dan suku Baduy perempuan diharuskan menggunakan rok bercorak batik dengan warna biru.

Warna pakaian yang digunakan memiliki arti tersendiri, warna hitam dengan pakaian biru bercorak batik memiliki arti bahwa Baduy Luar sudah mengadopsi seni di luar Baduy. Sedangkan untuk pakaian berwarna putih menggambarkan bahwa Baduy Dalam belum tersentuh dengan dunia luar dan masih sangat teguh memegang adat istiadatnya.

Lama perjalanan menuju lokasi tempat tinggal suku Baduy pun berbeda-beda, untuk mencapai lokasi dimana suku Baduy Luar tinggal memerlukan 1,5 jam dari desa terakhir yaitu Ciboleger. Sedangkan untuk menuju desa terakhir tersebut dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan dari Tangerang menggunakan mobil pribadi. Alur perjalanannya juga tidak mudah, karena harus terus menanjak dan melalui jalan raya yang lumayan curam serta kurangnya lampu penerangan jalan.

Tugu di desa terakhir, Ciboleger, yang menjadi tanda lokasi Suku Baduy.

Ketika sampai di Ciboleger, sudah dapat terlihat beberapa warga suku Baduy Luar yang akan melakukan aktivitasnya seperti berjualan hingga menjadi tour guide untuk wisatawan yang penasaran dengan kehidupan suku tersebut. Dari sinilah perjalanan menemui mereka dimulai dengan mendaki tanpa henti dan dengan suasana hutan yang bersebelahan langsung dengan jurang. Baru mendaki beberapa kilometer, saya sudah disambut oleh desa pertama yang memamerkan hasil buah tangan mereka yang dibuat menggunakan bahan-bahan alami.

Pernak-pernik khas Baduy yang langsung dibuat secara alami tanpa menggunakan mesin jahit.

Proses menenun kain tanpa menggunakan mesin jahit sudah menjadi kegiatan sehari-hari masyarakat Baduy.

Dalam membuat kain untuk dijual sebagai alternatif mencari pendapatan, suku Baduy Luar menggunakan alat tenun yang dibuatnya sendiri. Hampir semua alat yang digunakan untuk menjalani kegiatan sehari-hari menggunakan hasil alam yang mereka kelola. Terkait dengan alam yang mereka miliki, pengujung harus mengikuti beberapa aturan yang telah dibuat, seperti dilarang mengambil atau mencabut segala tumbuhan yang terdapat di sana, pengunjung juga dilarang meninggalkan sampah, serta dilarang untuk mengeluarkan kalimat-kalimat sembarang.

Jembatan penghubung di Baduy Luar yang hanya menggunakan bambu dan tali sebagai pengikatnya, tanpa ada paku satu pun, namun masih kokoh dilewati banyak orang.

Untuk masyarakat Baduy Luar, walau masih menjadi masyarakat adat, mereka sudah tersentuh dengan teknologi modern seperti handphone, bahkan kebanyakan dari mereka sudah mengenal Youtube dan Instagram. Dan hal tersebutlah yang menjadi alasan mengapa mereka lebih mudah untuk ditemui oleh pengunjung. Namun, beberapa dari mereka juga merasa sangat tidak nyaman apabila diambil fotonya, maka dari itu butuh izin terdahulu untuk mengambil sebuah foto.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by anen A'syahputra-baduy (@anen_andya_baduy) on

Bahan kain yang akan ditenun menggunakan alat tradisional. Beberapa masyarakat Baduy Luar memiliki kebiasaan untuk tidak menggunakan alas kaki dalam melakukan aktvitasnya, namun sebagian lainnya sudah menggunakan alas kaki.

Suku adat Baduy Luar maupun Dalam memiliki satu kesamaan adat yang bernama Seba Baduy. Adat tersebut merupakan acara yang digelar setiap tahun, dalam rangkaian adat ini, masyarakat Baduy harus berjalan kaki menuju pusat pemerintahan dengan membawa hasil bumi yang mereka punya, biasanya seperti umbi-umbian dan buah-buahan. Pada acara tersebut, mereka mencurahkan segala keluh kesah serta kejadian apa saja yang terjadi selama satu tahun di Baduy kepada pemerintah setempat hingga Gubernur.

Rumah kepala suku adat Baduy memiliki tampilan yang berbeda dari rumah adat lainnya, yaitu dengan memiliki tanduk di atas rumah sebagai penanda.

Selama 10 jam berada di Baduy Luar, saya bisa menikmati keindahan alam tanpa adanya polusi yang membuat udara sangat sejuk, bahkan ketika terik matahari datang pun tidak terasa panas, namun tetap terasa sejuk. Perjanalanan 5 jam menggunakan mobil dan berjalan mendaki hutan tidaklah terasa sia-sia.

SHARE THIS JOURNAL ON