THE JOURNAL

Wisata Religi Low Budget: Ziarah keliling Indonesia Backpacker Style

August 7, 2019

Words & Photo by : Despasya Yonada

Wisata religi Islam kini banyak digandrungi masyarakat Indonesia seiring dengan semakin populernya tren berhijrah, seperti makam Walisongo dan tokoh pahlawan.

Beberapa waktu yang lalu, saya menemani salah satu anggota keluarga untuk melakukan wisata religi bersama teman-temannya dari perkumpulan majelis taklim dengan destinasi ke beberapa makam yang terletak di berbagai wilayah di Indonesia seperti Cirebon, Blitar, Karanganyar dan Bali.

Saat itu yang ada di bayangan saya saat mendengar kata ziarah adalah pergi ke kuburan keramat yang mencekam dan angker di mana suasana gloomy menyelimuti seluruh area pemakan. Ditambah lagi banyak tersebar rumor bahwa tempat-tempat seperti ini lazimnya menjadi tempat pesugihan di mana orang-orang mengharapkan kekayaan dengan bertapa di sana. Hal ini tentu menambah rasa ketakutan saya saat itu.

Namun semua pendapat itu terpatahkan saat saya tiba di lokasi dan terlibat langsung di dalam kegiatan ziarah. Ternyata pemakaman yang ditujukan untuk menjadi objek wisata sangat berbeda dengan kompleks pemakaman yang ada dalam bayangan saya. Saya membayangkan sebuah kompleks pemakaman yang gelap, sepi, dikelilingi pohon beringin yang keseluruhannya memberikan kesan angker. Namun yang saya temui adalah kompleks pemakaman dengan suasana yang ramai dipenuhi oleh peziarah dan berbagai pedagang dari ujung ke ujung.

Para peziarah melakukan foto bersama di depan kompleks pemakaman Walisongo

Sebuah kejadian lucu mewarnai perjalanan kami. Saat berkunjung ke kompleks pemakaman keluarga Cendana di Astana Giribangun, mobil pengantar kami tidak dapat mengantarkan hingga ke pemakaman karena lokasinya yang terletak di atas bukit. Bayangkan saja, para peziarah yang rata-rata sudah berusia lanjut dan sudah menghabiskan banyak waktu di bis yang sempit, kini dipaksa untuk mendaki tanjakan yang bisa dibilang cukup curam. Beberapa peserta ziarah pada akhirnya menyerah sebelum mencoba dan memilih untuk menunggu di mobil.

Perjalanan ini dijembatani oleh sebuah perusahaan travel lokal dan biaya yang dikenakan untuk wisata religi selama 10 hari adalah Rp.1.500.000 Per orang, tidak termasuk konsumsi. Perkiraan budget yang dikeluarkan untuk 3x makan selama 10 hari adalah Rp. 750.000 dengan asumsi Rp. 25.000 sekali makan. Nominal ini jauh lebih rendah dibandingkan dari biaya normal yang harus dikeluarkan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut secara individu. Hasil kalkulasi saya menunjukkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan seseorang untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat tersebut selama 10 hari adalah 3x lipat dari biaya yang saya keluarkan.

Kondisi para peziarah saat beristirahat di sebuah losmen dan menempati satu ruangan yang sama

Secara teknis, perjalanan kami dapat disebut sebagai perjalanan ala backpacker, walaupun yang mereka bawa adalah koper. Rahasia dibalik pengeluaran di bawah biaya normal tersebut terletak pada tempat-tempat yang menjadi penginapan kami. Selama 10 hari perjalanan tersebut kami menempati losmen-losmen murah di mana para romnbongan tidur di satu kamar yang sama dan most of the time, kami tidur di dalam bis yang membawa kami.

Banyak cara yang dapat ditempuh demi dapat merasakan pengalaman spiritual di tempat-tempat idaman. Hal ini kembali lagi kepada seberapa besar niat untuk mencapainya dan kesiapan kita untuk hidup selama beberapa waktu dengan keadaan serba minimal. Selain untuk memenuhi kebutuhan spiritual, kegiatan ini juga dijadikan sebagai pengganti bagi beberapa orang yang belum mampu untuk melakukan perjalanan religi di tempat suci yang wajib seperti umroh dan pergi haji.

Do things that will feed your spiritual needs and not only your mundane needs then your life will be complete. -Rowena Rolala Loves

SHARE THIS JOURNAL ON