THE JOURNAL

Yola DÍa Festival: Coachellanya Para Feminist

September 4, 2019

Words by : Despasya Yonada | Photos by :

“Strong women. Strong drink. Together in the park.” merupakan tagline dari Yola Dia Festival 2019 yang baru saja diadakan pada 18 Agustus lalu di L.A State Historic Park, Amerika Serikat. Dengan lineup yang diisi oleh para penyanyi yang semuanya perempuan, festival ini memiliki misi untuk mempromosikan semangat feminisme progresif.

Dari tahun ke tahun, kepopuleran festival musik dari beragam genre dan konsep semakin bertambah. Mulai dari Coachella, Afropunk hingga Lollapalooza.

Suasana para pengunjung salah satu festival musik paling terkenal di dunia, Coachella. Foto diambil dari abc7news.com

Para pengunjung Afropunk Festival yang sedang menyaksikan salah satu penampilan. Foto diambil dari gq.com

Selama ini mungkin kebanyakan dari kita datang ke acara musik festival untuk sekadar menikmati penampilan penyanyi idola atau karena acaranya yang memang sedang hits. Namun, pernahkan kalian berpikir untuk datang ke acara festival untuk tujuan mendukung sebuah gerakan sosial?

Di beberapa negara di dunia ternyata terdapat festival-festival musik yang memiliki tujuan lebih dari sekadar hiburan. Festival tersebut diadakan untuk mengumpulkan dukungan dan solidaritas terhadap sebuah isu yang sedang terjadi.

Contohnya saja Exit Festival di Serbia yang pada awalnya merupakan student protest movement yang berjuang untuk demokrasi pada tahun 2000 lalu. Kini festival tersebut menjadi moment untuk mengenang perjuangan para aktivis mahasiswa tersebut dalam perjuangannya.

Kemeriahan Exit Festival di Serbia. Foto diambil dari nme.com

Lalu ada Yola Dia festival yang merupakan sebuah pagelaran musik dan juga seni yang memiliki tujuan sosial khususnya untuk kaum-kaum yang termarjinalkan seperti perempuan dan imigran.

Lykke Li yang merupakan salah satu pencetus Yola Dia Festival menjadi salah satu pengisi acara di festival ini.

View this post on Instagram

 

@LYKKELI • COUNTDOWN • AUGUST 18TH 🎥@claracullen

A post shared by YOLA DÍA (@yoladia) on

Kemeriahan acara Yola Dia Festival pada 18 Agustus lalu. Foto diambil dari instagram @yoladia

Pengunjung sedang menari bersama sambil menikmati penampilan salah satu pengisi acara. Foto diambil dari thecut.com

Festival ini merupakan festival tahunan dari Yola Mezcal, sebuah brand minuman beralkohol asal Mexico yang para pemiliknya adalah perempuan. Mereka adalah Lykke Li, Yola Jiminez dan Gina Correll Aglietti. Perusahaan ini juga hanya mempekerjakan para karyawan perempuan di pabriknya.

Para pemiliknya mengatakan, Yola Mezcal berusaha untuk berdedikasi mengembangkan otonomi ekonomi para perempuan Oaxaca, tempat di mana perusahaan Yola Mezcal berada, dengan menyediakan pekerjaan yang stabil dan upah yang adil.

Festival Yola Dia sendiri dimaksudkan untuk memperingati hari jadi ke-99 hak perempuan Amerika untuk mengikuti pemilu. Selain itu juga, festival ini dibuat sebagai bentuk ekstensi dari semangat inklusif dan feminisme progresif yang sudah terlebih dulu dipromosikan melalui brand Yola Mezcal.

Pada dasarnya festival ini bertujuan untuk mengingatkan warga amerika dan para pengunjung yang datang bahwa kita semua adalah bagian dari keluarga imigran dan kebijakan imigrasi yang diterapkan di Amerika Serikat dinilai sebagai bentuk rasisme dan retorika kebencian. Lykke Li mengatakan, krisis politik yang terjadi membantu mendorong perusahaan-perusahaan besar seperti Yola Mezcal untuk mencoba cara seperti ini untuk mengumpulkan pendukung.

Yola Dia sebagai festival yang dikurasi oleh perusahaan Yola Mezcal juga memiliki semangat yang sama dalam upayanya menyejahterakan perempuan dengan hanya menyediakan lineup penampilan perempuan dan juga mempekerjakan para petugas keamanan yang semuanya perempuan.

Salah satu petugas keamanan perempuan di Yola Dia Festival. Foto diambil dari Twitter @YoladiaLA

Walaupun lineup dan mayoritas dari crew yang bekerja merupakan perempuan, tapi yang datang bukan hanya perempuan saja. Faktanya, kebanyakan dari pengunjung mengaku sebagai genderfluid atau ambigous, namun tetap tampil feminine dalam hal penampilan maupun energi.

Tidak hanya dikhususkan untuk perempuan, tapi pengunjung dengan ekspresi gender lainnya juga turut meramaikan Yola Dia Festival. Foto diambil dari passtheaux.co

Salah satu pemilik Yola Mezcal, Yola Jiminez mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bertujuan untuk mempromosikan legislasi yang mendukung para perempuan.

Selain penampilan dari para penyanyi papan atas, festival ini juga memberi kesempatan untuk para seniman perempuan untuk mengkreasikan karyanya melalui bendera yang telah dilukis. Karya tersebut kemudian dilelang dan hasil dari pelelangan ini akan dialokasikan untuk ACLU dan program pengembangan kebijakan imigrasinya di California yang diharapkan dapat membantu mempersatukan keluarga di perbatasan dan para pencari suaka.

Suasana pelelangan karya bendera yang telah dibuat oleh para seniman perempuan di Yola Dia Festival. Foto diambil dari uproxx.com

Seniman-seniman ternama seperti Corazón del Sol, Frida Escobedo, Laurie Simmons and Kiki Smith mengatakan bahwa kata “bendera” itu sendiri memiliki konotasi laki-laki seperti perang dan perbatasan. Dengan adanya kegiatan ini mereka bermaksud untuk membuat topik ini menjadi lebih personal dan tentang perempuan.

Karya Minnie Mouse Flag dari Magdalena Suarez Frimkess. Foto oleh David Black

Inspirasi dari instalasi bendera karya Magdalena Suarez Frimkess ini adalah berita tentang anak-anak di children's detention centers.

Karya Marilyn Minster yg mengartikan “Perlawanan”. Foto oleh David Black

Kita tahu bahwa festival musik merupakan bisnis besar yang menguntungkan. Harga satu tiketnya kadang bisa mencapai UMR Yogyakarta atau bahkan lebih. Namun beberapa festival musik mengedepankan pesan moral daripada keuntungan semata.

Hal inilah yang dilakukan pengelola Yola Dia Festival. Komitmennya dalam mendukung perjuangan perempuan juga dibuktikan dengan mendonasikan sebagian penghasilan festival ini ke Downtown Women’s Center di Los Angeles yang merupakan sebuah shelter bagi para perempuan yang tidak memiliki rumah.

Sah-sah saja untuk datang ke festival musik untuk tujuan hiburan semata. Festival semacam ini dapat menjadi opsi alternatif bagi kalian yang menginginkan hiburan dan di saat bersamaan juga berkontribusi terhadap gerakan sosial.

SHARE THIS JOURNAL ON