Clearance Sale , up to 50% off SHOP NOW
THE JOURNAL

Mengintip "Surga" di JABAR dengan Kocek Rp250ribuan

Mengintip "Surga" di JABAR dengan Kocek Rp250ribuan
  • SHARE
THE JOURNAL

Mengintip "Surga" di JABAR dengan Kocek Rp250ribuan

  • SHARE

Words & Photo by : | December 13, 2016

Lumrah rasanya bila setelah Wearianasians mengarungi keindahan Green Canyon dan mendeskripsikannya sebagai aliran "surga" yang melukis tanah Jawa Barat. Warga lokal mengenal Green Canyon sebagai Cukang Taneuh alias Jembatan Tanah dikarenakan pada hulunya terdapat jembatan tanah yang membentang sepanjang 40M dan selebar 3M, bak sebuah terowongan.

slack-for-ios-upload-2-min

Salah satu atraksi alam yang membuat Green Canyon menggema sebagai tujuan melancong, ialah body rafting, sensasi menghanyutkan diri melewati aliran Sungai Cijulang yang dihimpit tebing-tebing berlumut hijau. Sempat terpikir kalau aktifitas ini akan usai dalam tempo waktu yang singkat, namun pengalaman berkata sebaliknya, panjangnya sungai baru bisa kami selesaikan dalam kurun waktu satu setengah jam (diluar waktu istirahat). Kira-kira sensasi apa saja yang dapat ditemukan saat "berhanyut-hanyut" ria di tanah legenda ini? Berikut daftar singkat temuan saya:

1. CLIFF JUMPING (LOMPAT TEBING)

slack-for-ios-upload-4-min

 

Bila Wearinasians terinspirasi dengan aksi lompat bebas, terjun payung, atau kegiatan pemacu adrenalin lainnya yang kerap dilakukan atlit-atlit yang disponsori GoPro, namun belum memiliki keberanian yang cukup (seperti saya), tebing-tebing di Sungai Cijulang bisa menjadi langkah pertama Wearinasians sebelum menjadi pecandu adrenalin sejati. Dengan ketinggian kurang lebih 9M, pelancong ditantang untuk terjun bebas, tetapi walaupun terdengar "pendek", dan tidak se-ekstrim zona-zona cliff jumping lain yang umumnya dapat mencapai lebih dari 20M, tantangan ini cukup untuk membuat saya maju-mundur sebelum akhirnya nekad melompat.

Selama saya menikmati sesi "menghanyutkan diri" ini, tercatat ada tiga titik loncat yang bisa Wearinasians taklukkan dengan ketinggian yang tidak berbeda jauh satu sama lain. Sedangkan hal lain yang wajib diperhatikan ialah cara mendarat yang aman, yakni dengan memastikan kaki terlebih dahulu menghantam air, lupakan sejenak aksi backflip ala atlit ekstrim karena bila air tamparan air langsung ke tubuh, cukup membuat dada sesak (pengalaman pribadi).

2. BODY RAFTING

slack-for-ios-upload-3-min

Sungai di Green Canyon ini merupakan salah satu dari sedikit sungai di alam semesta yang aman untuk aktifitas body rafting, tak ayal hal ini menjadi atraksi turis yang menarik, baik untuk wisatawan lokal atau mancanegara. Cukup bermodalkan pelampung, helm, dan pakaian renang yang nyaman, tebing alam berwarna hijau yang nan indah, siap menjadi hiburan yang menyegarkan pikiran Wearinasians.

slack-for-ios-upload-5-min

3. SAMPAH!

Dari informasi yang saya dengar, Green Canyon dan atraksi sekitarnya dikelola secara swadaya dan hasil gotong royong antar masyarakat. Impresi saya akan kemandirian warga dalam mengelola objek wisata ini patut diacungi jempol, namun dalam hal mengelola kebersihan, saya rasa masih banyak yang bisa dikembangkan, misalnya zona yang dijadikan istirahat, lengkap dengan penjaja makanan kecil seperti mie instan, rokok, dan kopi. Masih banyak pelancong dan pemandu yang secara berjemaah membuang puntung rokok dan sisa makanan ke aliran sungai, yang sontak membuat hati saya miris, mengingat keindahan alam ini apabila dirawat secara telaten, pastinya menjadi destinasi wisata eksotis yang makin seksi.

Lumrah rasanya bila setelah Wearianasians mengarungi keindahan Green Canyon dan mendeskripsikannya sebagai aliran "surga" yang melukis tanah Jawa Barat. Warga lokal mengenal Green Canyon sebagai Cukang Taneuh alias Jembatan Tanah dikarenakan pada hulunya terdapat jembatan tanah yang membentang sepanjang 40M dan selebar 3M, bak sebuah terowongan.

slack-for-ios-upload-2-min

Salah satu atraksi alam yang membuat Green Canyon menggema sebagai tujuan melancong, ialah body rafting, sensasi menghanyutkan diri melewati aliran Sungai Cijulang yang dihimpit tebing-tebing berlumut hijau. Sempat terpikir kalau aktifitas ini akan usai dalam tempo waktu yang singkat, namun pengalaman berkata sebaliknya, panjangnya sungai baru bisa kami selesaikan dalam kurun waktu satu setengah jam (diluar waktu istirahat). Kira-kira sensasi apa saja yang dapat ditemukan saat "berhanyut-hanyut" ria di tanah legenda ini? Berikut daftar singkat temuan saya:

1. CLIFF JUMPING (LOMPAT TEBING)

slack-for-ios-upload-4-min

 

Bila Wearinasians terinspirasi dengan aksi lompat bebas, terjun payung, atau kegiatan pemacu adrenalin lainnya yang kerap dilakukan atlit-atlit yang disponsori GoPro, namun belum memiliki keberanian yang cukup (seperti saya), tebing-tebing di Sungai Cijulang bisa menjadi langkah pertama Wearinasians sebelum menjadi pecandu adrenalin sejati. Dengan ketinggian kurang lebih 9M, pelancong ditantang untuk terjun bebas, tetapi walaupun terdengar "pendek", dan tidak se-ekstrim zona-zona cliff jumping lain yang umumnya dapat mencapai lebih dari 20M, tantangan ini cukup untuk membuat saya maju-mundur sebelum akhirnya nekad melompat.

Selama saya menikmati sesi "menghanyutkan diri" ini, tercatat ada tiga titik loncat yang bisa Wearinasians taklukkan dengan ketinggian yang tidak berbeda jauh satu sama lain. Sedangkan hal lain yang wajib diperhatikan ialah cara mendarat yang aman, yakni dengan memastikan kaki terlebih dahulu menghantam air, lupakan sejenak aksi backflip ala atlit ekstrim karena bila air tamparan air langsung ke tubuh, cukup membuat dada sesak (pengalaman pribadi).

2. BODY RAFTING

slack-for-ios-upload-3-min

Sungai di Green Canyon ini merupakan salah satu dari sedikit sungai di alam semesta yang aman untuk aktifitas body rafting, tak ayal hal ini menjadi atraksi turis yang menarik, baik untuk wisatawan lokal atau mancanegara. Cukup bermodalkan pelampung, helm, dan pakaian renang yang nyaman, tebing alam berwarna hijau yang nan indah, siap menjadi hiburan yang menyegarkan pikiran Wearinasians.

slack-for-ios-upload-5-min

3. SAMPAH!

Dari informasi yang saya dengar, Green Canyon dan atraksi sekitarnya dikelola secara swadaya dan hasil gotong royong antar masyarakat. Impresi saya akan kemandirian warga dalam mengelola objek wisata ini patut diacungi jempol, namun dalam hal mengelola kebersihan, saya rasa masih banyak yang bisa dikembangkan, misalnya zona yang dijadikan istirahat, lengkap dengan penjaja makanan kecil seperti mie instan, rokok, dan kopi. Masih banyak pelancong dan pemandu yang secara berjemaah membuang puntung rokok dan sisa makanan ke aliran sungai, yang sontak membuat hati saya miris, mengingat keindahan alam ini apabila dirawat secara telaten, pastinya menjadi destinasi wisata eksotis yang makin seksi.

  • SHARE ON
Leave A Comment

    Kemudahan Berbelanja

    Freeshipping

    Gratis ongkos kirim untuk nilai transaksi lebih dari Rp 500.000,00 - Berlaku untuk daerah Jabodetabek

    Cicilan 0%

    Kemudahan melakukan transaksi dengan cicilan 0% dari berbagai macam bank dan perusahan finansial lainnya

    100K Voucher

    Dapatkan potongan sejumlah Rp 100.000,00 untuk transaksi pertama, dengan daftar menjadi member kami.