Clearance Sale , up to 50% off SHOP NOW
THE JOURNAL

Petualangan Ajaib ke 'Gerbang Menuju Neraka' di Turkmenistan

Petualangan Ajaib ke 'Gerbang Menuju Neraka' di Turkmenistan
  • SHARE
THE JOURNAL

Petualangan Ajaib ke 'Gerbang Menuju Neraka' di Turkmenistan

  • SHARE

Words & Photo by : | April 8, 2017

Turkmenistan menjadi semakin tersohor karena 'pintu menuju neraka' di bagian utara negara tersebut. Apakah gerbang neraka sungguh ada di negeri di Asia Tengah itu?

Jawabannya, tentulah tidak. Sebenarnya, 'gerbang menuju neraka' ini bermula dari sebuah kesalahan.

Tahun 1971, para insinyur Soviet (Turkmenistan dulu merupakan bagian Uni Soviet) meyakini bahwa mereka telah menemui ladang minyak di utara Turkmenistan. (Terdapat laporan kalau cikal bakal Darvaza Crater telah muncul setidaknya sejak tahun 1960-an.) Mereka segera mengebor ladang demi sekadar memahami (awalnya sampel) minyak yang ada. Celakanya, dataran di bawah ladang minyak yang hendak diekstraksi kolaps.

Insinyur-insinyur ini berupaya agar gas dari kawah tidak sampai menyebar dan mencapai kota-kota kecil terdekat. Mereka menyalakan api di sekitar gas agar gasnya lama-kelamaan habis; mereka berharap gas akan hilang dalam beberapa minggu saja. Namun dugaan mereka kembali salah karena kawah masih membara hingga hampir lima dekade setelahnya. Kawah tersebut dikenal dunia sebagai Darvaza Crater.

Kawah. Image by melodyssey.net

Darvaza Crater. Image by melodyssey.net

Berdiameter 69 meter dan sedalam kurang lebih 30 meter, 'pintu neraka' ini terkesan tak nyata karena kawah tersebut menganga di lanskap yang amat tandus. Bagi George Kourounis, penjelajah Darvaza Crater pertama (ia sampai masuk ke dalam kawah!), ia kerap terpukau dengan kawah tersebut. Ia berpendapat Darvaza Crater adalah satu-satunya kawah seperti ini di dunia. Pasalnya, kawah mengeluarkan metana yang membara dalam tekanan tinggi. Seperti dikutip situs berita National Geographic, ia berujar, "visually stunning."

Kawah di tengah-tengah tanah tandus. Image by National Geographic

Kawah di tengah-tengah tanah tandus. Image by National Geographic

Demi memperoleh pemahaman maksimal tentang fenomena Turkmenistan ini, George sampai bekerja sama dengan koordinator stunt di film-film Hollywood. Sang koordinator sengaja 'membakar' George beberapa kali supaya dirinya terbiasa jika sewaktu-sewaktu berada dekat sekali dengan api.

Di pijakan pertama, George mengakui apa yang ia lihat di kawah mirip dengan film fiksi ilmiah. Panasnya benar-benar membakar; saking panasnya, ia memalingkan wajah dari udara yang berembus ke wajahnya. Bahkan ia menutup wajah dengan tangan, sekalipun ia hanya berdiri di bibir kawah.

Berdiri di bibir kawah. Image by remotelands.com

Berdiri di bibir kawah. Image by remotelands.com

Di sekelilingnya, George seolah melihat ribuan api kecil. Bunyi kawah seperti mesin jet: bergemuruh, riuhnya pembakaran gas, bertekanan tinggi. Dan semakin dalam ekspedisinya, ia menyimpulkan kalau petualangannya di Darvaza Crater bukan sekadar mencoret '10 Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Tua'. Ia menemukan hal yang tak disangka-sangka: terdapat mikroorganisme yang mampu tinggal dalam suhu begitu ekstrem; uniknya, mikroorganisme sejenis tidak ia temukan dalam tanah luar kawah.

Kalau Anda tertarik menyaksikan Darvaza Crater, bersiaplah dengan segala birokrasinya. Negara yang terbilang tertutup ini mensyaratkan proses pembuatan visa yang jauh lebih rumit dibandingkan tetangga-tetangganya di Asia Tengah. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, rasanya sepadan demi petualangan tak terlupakan sepanjang hidup.

*) Featured image by melodyssey.net

  • SHARE ON
Leave A Comment

    Kemudahan Berbelanja

    Freeshipping

    Gratis ongkos kirim untuk nilai transaksi lebih dari Rp 500.000,00 - Berlaku untuk daerah Jabodetabek

    Cicilan 0%

    Kemudahan melakukan transaksi dengan cicilan 0% dari berbagai macam bank dan perusahan finansial lainnya

    100K Voucher

    Dapatkan potongan sejumlah Rp 100.000,00 untuk transaksi pertama, dengan daftar menjadi member kami.